FinTech dan perbankan ritel

Barometer yang sangat bagus mengenai keadaan perbankan ritel selalu menjadi pembicaraan hangat. Dalam pengumuman, video dan infografis seputar edisi 2016, dua hal menonjol: pengalaman pelanggan dan FinTech.

Ini dapat diartikan bahwa Perbankan ritel dan fintech saling terhubung dalam hal menarik konsumen untuk mengadopsi layanan. Pengalaman pelanggan dan kecepatan layanan FinTech merupakan alasan utama pada transformasi digital perbankan ritel.

Peluang FinTech pada perbankan ritel

Sementara FinTech merupakan sebagian dari transformasi perbankan ritel, sekarang ini hampir semuanya mempengaruhi bisnis ritel perbankan. Salah satu tantangan bagi FinTech yang aktif dalam perbankan ritel adalah regulasi. Hanya sedikit kegiatan layanan keuangan yang mudah diukur di wilayah geografis yang lebih luas.

Bagi perbankan ritel ini adalah kesempatan. Mereka memiliki pengetahuan peraturan dan basis pelanggan besar yang dibutuhkan di banyak area perbankan. Ini adalah satu lagi banyak alasan mengapa kita melihat peningkatan kolaborasi antara bank dan perusahaan FinTech.

Selain dapat menurunkan biaya operasional layanan melalui menggunakan FinTech, bank juga dapat meningkatkan pengalaman pelanggan mereka, cepat dalam update teknologi dan kemampuan untuk berinovasi dengan cepat. FinTech saat ini menarik merupakan bisnis yang menarik. Kolaborasi Fintech dengan pihak perbankan dapat menghasilkan arus pendapatan baru dan proposisi nilai.

Saat ini, perbankan ritel belum dapat mengubah investasi mereka secara digital. Khususnya di Indonesia, pihak perbankan harus melakukan transformasi infrastruktur IT mereka terlebih dahulu. Transformasi digital pada perbankan retail akan membutuhkan sub set yang dapat mendukung inovasi namun kelancaran operasional dapat tetap terjaga kelancarannya.

Evolusi kolaboratif di FinTech dan perbankan ritel

Menurut laporan Retail Banking Dunia di tahun 2016 : 65% eksekutif perbankan ritel melihat perusahaan startup FinTech sebagai mitra, bukan pesaing.

Tidak ada yang mengelak bahwa peningkatan kolaborasi antara perusahaan FinTech dan bank untuk semua alasan yang disebutkan. Dengan pendekatan yang berbeda, mulai dari investasi hingga kolaborasi dan akuisisi, akan terus berlanjut. Dan tentu saja akan ada persaingan juga.

Namun, 96 persen pemimpin di sektor perbankan setuju bahwa industri ini berkembang menuju ekosistem digital. Sebagian besar mengatakan bahwa sistem inti mereka tidak dapat mendukungnya, persaingan terus berkembang seiring penerimaan perubaahan. Ini merupakan alasan bank melihat peluang kolaborasi pada perusahaan fintech.

Selain itu, penerapan FinTech di perbankan ritel hanyalah sebuah fakta yang hampir mendekati dua pertiga pelanggan di seluruh dunia dengan menggunakan produk atau layanan retail banking FinTech. Laporan Perbankan Ritel Dunia meminta bank untuk tidak meremehkan dampak perusahaan Fintech terhadap pelanggan mereka.

Kesempatan untuk berkolaborasi terlalu tinggi untuk diabaikan dan, pada tingkat teknologi (misalnya, API dan arus pendapatan baru) bahkan tak terelakkan lagi.

Sumber tambahan tentang digitalisasi yang sedang berlangsung, transformasi digital bank ritel

Tranformasi digital pada perbankan retail memiliki tantangan tersendiri disamping peluang yang ada. Oleh karena itu, banyak praktisi yang menyarankan agar perbankan meninjau ulang kesiapan infrastruktur IT mereka. Terutama pada faktor keamanan cyber, mitigasi bencana, devops, dan kepatuhan terhadap kedaulatan data.

Sistem tradisional dan tantangan IT pada perbankan ritel

Hampir semua eksekutif bank ritel ingin menerapkan strategi digital. Para pemimpin melangkah lebih jauh dan merespon pendatang baru dengan mengubah model bisnis dan bahkan meluncurkan aplikasi fintech.

Namun, pada saat bersamaan ada beberapa tantangan IT dan back office yang sudah kami sebutkan. Sistem IT sebelumnya pada khususnya sering menghalangi akses informasi, proses back end, dan rintangan integrasi front end yang lebih baik, yang pada gilirannya akan menghalangi ketangkasan dan pengalaman pelanggan end-to-end yang optimal.

Saluran langsung dan digital memainkan peran yang meningkat dalam perbankan ritel sejak bertahun-tahun hingga sekarang. Namun, masih banyak ruang untuk perbaikan, tergantung konteks, geografi dan area aktivitasnya.

Saluran langsung dan digital paling penting dari semua perspektif pelanggan. Ini akan mencakup pengumpulan informasi untuk mendapatkan akses ke layanan pelanggan. Bagi bank ritel, saluran langsung dan digital merupakan bagian penting dari strategi omnichannel dan berperan dalam beberapa tujuan, mulai dari akuisisi hingga dukungan.

Kapan dan bagaimana konsumen keuangan menggunakan saluran digital dan langsung bergantung pada banyak faktor. Dengan munculnya ‘fenomena digital‘ dan transformasi yang lebih dalam realitas keuangan dan perbankan secara keseluruhan, penting untuk memahami peran saluran digital yang semakin meningkat.

Tantangan back-office di perbankan ritel

Bagian utama dari upaya digital di perbankan ritel berkisar di front end. Terutama mengoptimalkan pengalaman pelanggan di beberapa titik kontak dan alat. Namun, seperti disebutkan, mengoptimalkan pengalaman pelanggan dan memperbaiki proses bisnis lainnya, bukan hanya soal front end. Ini memerlukan pendekatan terpadu dimana back office dan front end saling terhubung.

Konsekuensi jika tidak melakukannya? Antara lain inefisiensi yang memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pengalaman pelanggan sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian.

Atau dengan kata lain: digitalisasi yang prematur akan menempatkan layanan perbankan retail pada kondisi optimasi pengalaman pelanggan di front-end akhirnya kalah dengan proses keseluruhan yang terintegrasi dengan buruk. Sinkronisasi front-end dan back-end merupakan tantangan tersendiri dalam digitalisasi perbankan retail.