Para praktisi menemukan bahwa, pemeliharaan dapat lebih mengukur dan memprediksi downtime. Namun, di kala kegagalan dalam membangkitkan daya cadangan terjadi, downtime tetap akan terjadi. Oleh karena itu, orkestrasi infrastruktur IT dapat diandalkan untuk mencegah terjadinya downtime pada operasional IT anda.

Orkestrasi Infrastruktur IT

Saat ini, konsep Hybrid Data Center lebih terpakai oleh banyak perusahaan. Konsep Hybrid ini mengggabungkan on Premise dengan Cloud. Pada dasarnya, sebuah perusahaan dapat menggunakan colocation server pada sistem on-premise dan disaster recovery pada private cloud (DRaaS).

Ketika terjadi kegagalan perangkat pada situs data center utama yang digunakan operasional sehari-hari, maka sebuah agen virtual akan mengalihkan operasional anda pada infrastruktur data center cadangan yang berada di cloud DRC.

Orkestrasi infrastruktur IT selalu berguna untuk melakukan otomatisasi, baik untuk sebagian komponen maupun seluruh infrastruktur IT. Dengan menggunakan monitoring, para praktisi dapat menentukan konfigurasi atau penyesuaian apa saja yang dapat di orkestrasi, baik menggunakan docker, kubernetes, maupun gabungan keduanya.

Sejatinya memang orkestrasi infrastruktur akan berguna untuk sistem scaling. Hal ini umum digunakan oleh para penyedia layanan cloud seperti Azure, AWS dan sebagainya. Namun, dalam hal ini, tetap tidak ada yang kebal terhadap downtime. Baru-baru ini, AWS mengalami downtime beberapa saat akibat kesalahan kode konfigurasi. Dengan lingkungan DevOps, AWS berhasil cepat memulihkan operasional mereka (roll back).

Orkestrasi Infrastruktur IT untuk Misi Kritis Operasional

Saat ada kejadian downtime, baik karena kegagalan dalam membangkitkan daya cadangan seperti yang di alami sebuah data center di Indonesia belakangan ini, maupun seperti yang di alami oleh AWS pada sitem cloud mereka, orkestrasi infrastruktur IT dapat mengatasi downtine lebih cepat. Dalam hal downtime, semakin cepat diatasi maka akan semakin baik.

Saat ini perusahaan tidak bisa menggantungkan hanya pada on premise saja atau pada cloud basis saja. Akan tetapi harus menggabungkan kedua lingkungan tersebut untuk memperkuat infrastruktur IT mereka. Oleh karena itu, hybrid data center memang harus diterapkan. Perusahaan dapat menilai ulang kembali arsitektur infrastruktur IT mereka untuk kemudian menentukan apa saja yang akan berada pada lingkungan on-premsie dan apa saja yang bisa di tempatkan pada private cloud.

Pada lingkungan hybrid data center, pola kerja DevOps harus di terapkan untuk dapat melakukan orkestrasi infrastruktur IT yang menggabungkan dari berbagai vendor, sumber dan sebagainya.

Lingkungan devops memungkinkan untuk mengorkestrasi dan megotomatisasi pekerjaan rutin dan dapat berdaptasi dengan setiap perubahan secara real-time. Lingkungan DevOps diperlukan karena orkestrasi infrastruktur IT harus mampu menjadi jembatan bagi beberapa platform. Sehingga akan terbentuk kelincahan dan fleksibilitas yang dapat menunjang operasional infrastruktur IT anda.