Dalam dunia DevOps, dimana inovasi membuat rilis fitur-fitur baru menjadi semakin cepat. Mengatasi masalah downtime dengan cepat dan efisien menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Era transformasi digital banyak membuka peluang bagi bisnis yang cepat melakukan digitalisasi. Namun, dibalik itu, pada praktiknya banyak sekali tantangan yang harus dapat diatasi dengan baik.

Sebagai contoh, perusahaan besar sekelas AWS sekalipun dapat terkena downtime. HBO beberapa waktu yang lalu juga terkena downtime. Tokopedia, Bukalapak dan Kaskus juga beberapa kali terkena downtime. Sekarang kita bisa bandingkan dengan Go-Jek dan Grab, yang nyaris belum pernah mengalami downtime.

Sebenarnya, baik Go-Jek maupun Grab, bukan berarti tidak pernah mengalami downtime, hanya saja mereka berhasil membuat masalah downtime jadi “Seamless” dan tidak diketahui oleh pengguna.

Ketika sistem mengalami downtime, pilihan yang tersedia saat ini adalah dengan mengumumkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan atau tetap mempertahankan operasional dan layanan bisnis dapat berjalan.

Pasar millenial dipenuhi oleh orang-orang yang mudah berpaling ke bisnis lain. Dalam hal ini, ketersediaan layanan menempati prioritas pertama dalam persaingan bisnis. Downtime dapat sebabkan para pengguna pindah ke pesaing, dan ini tentunya harus dapat di cegah.

Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah downtime dengan lebih mudah, cepat dan efisien ?

Anda dapat saja mengatakan bahwa telah memiliki rencana mitigasi dan pemulihan. Tokopedia dan Bukalapak pun seperti itu, dan tetap membutuhkan waktu berjam-jam untuk dapat mengembalikan operasional layanan mereka.

Ini hanya dapat disebabkan oleh 2 kemungkinan, yakni:

  1. Tidak ada solusi mitigasi dan pemulihan yang teruji.
  2. Fasilitas mitigasi dan pemulihan selalu di uji, akan tetapi gagal melakukan fail-over dan ini biasanya lebih disebabkan karena kegagalan pada infrastruktur di lokasi mitigasi bencana tersebut.

Dari 2 penyebab tersebut, untuk memastikan kesuksesan dalam mengatasi masalah downtime kita dapat menemukan pentingnya memiliki solusi mitigasi bencana yang selalu teruji dan berjalan pada infrastruktur yang kuat dan dapat di andalkan.

Sebuah infrastruktur untuk disaster recovery site harus dapat menjamin ketersediaan 99.999% (Tier III). Infrastruktur yang telah mendapat sertifikasi TIER III oleh The Uptime Institute sangat ketat dalam pemeliharaan perangkat dan pengujian, sehingga dapat lebih menjamin ketersediaan layanan.

Untuk lingkungan IT yang kompleks, colocation pada disaster recovery data center adalah solusi yang paling mudah dan dapat di andalkan.

Perusahaan menengah selain belum memerlukan colocoation, juga akan sangat membebankan anggaran. Saat ini sudah ada sarana mitigasi untuk perbankan skala menengah (BPR dan BPD) dan juga untuk startup FinTech di Indonesia.

Mengatasi Masalah Downtime Untuk Bisnis Skala Menengah

Sementara sejumlah besar bisnis berusaha untuk melakukan hal yang benar, ada banyak yang belum memiliki rencana dan implementasi dalam mengatasi masalah downtime. Ini merupakan strategi risiko tinggi untuk keberlanjutan usaha.

Seperti dijelaskan diatas, perusahaan menengah dalam mengatasi masalah downtime harus mempertimbangkan anggaran. Namun selain anggaran, tentunya harus tetap ada jaminan ketersediaan dan skalabilitas. Dengan pendekatan ini, perusahaan skala menengah dapat lebih mudah dan efisien dalam mengatasi masalah downtime.

Disaster Recovery as a Service merupakan solusi mitigasi bencana yang dapat digunakan oleh bisnis skala menengah. Perusahaan tidak perlu lagi melakukan investasi perangkat keras ataupun lunak. Proses instalasi DRaaS ini cukup mudah dan dapat cepat terpasang.

Khususnya bagi perusahaan FinTech atau startup digital lainnya yang sering melakukan pengujian fitur baru sebelum di rilis. Downtime akan sering terjadi, dengan DRaaS anda dapat melakukan pengalihan layanan bisnis dan operasional sehingga dapat terus berjalan.

Semakin cepat dapat merilis fitur baru, tentunya akan semakin cepat dapat memenangkan persaingan. Layanan bisnis tidak bisa mengalami downtime yang lama dan sering terjadi. Begitu downtime terjadi, anda harus dapat mencegah konsumen lari ke pesaing.

Oleh karena itu, infrastruktur teknologi informasi para startup FinTech harus di dukung dengan DRaaS, selain sebagai syarat kepatuhan dari OJK Indonesia. Hal ini lebih ditujukan agar para startup FinTech dapat terus ber-inovasi tanpa harus khawatir mengalami downtime.