Layanan internet banking semakin banyak digunakan penduduk di Indonesia. Kelancaran internet banking akhir-akhir ini banyak mengalami ancaman serangan DDoS dan downtime. Hal tersebut sebetulnya dapat di cegah dan di atasi lebih cepat dengan menggunakan metode DevOps. Namun sebelumnya, penyebab terganggunya layanan internet banking harus dapat ditemui terlebih dahulu.

Beberapa Penyebab Terganggunya Kelancaran Internet Banking

Sistem IT di dunia perbankan merupakan hal yang kompleks. Melalui koneksi publik, sistem harus dapat terintegrasi dengan database di data center utama. Disamping itu, banyaknya sistem lain yang terhubung menambah kompleksitas dalam sistem IT perbankan.

Kelancaran internet banking dapat terganggu dari beberapa sebab, sebagai berikut:

  • Kesalahan konfigurasi yang menyebabkan downtime.
  • Pengujian fitur baru tanpa isolasi di lingkungan operasional.
  • Pelepasan fitur baru tanpa pengujian.
  • Serangan cyber seperti DDoS dan Malware.
  • Kegagalan sumber daya.

Masih banyak lagi faktor penyebab gangguan pada kelancaran internet banking yang dapat terjadi. Hanya saja, para pimpinan IT harus berfokus pada pencegahan dan solusi mengatasi downtime untuk menjaga kelancaran akses internet banking bagi para nasabah.

Dengan menggunakan pola kerja DevOps, perusahaan dapat melakukan otomatisasi pekerjaan rutin dan orkestrasi infrastruktur data center. Pengujian dapat dilakukan secara langsung pada lingkungan operasional yang sedang berjalan dan ter-isolasi. Sehingga, dengan cara ini kemungkinan downtime sebagai akibat dari pengujian dapat hilang. Hal ini dapat menjaga kelancaran internet banking.

Penggunaan disaster recovery center dari pihak ketiga yang memiliki tingkat keamanan dan kekuatan infrastruktur lebih tinggi merupakan lebih untuk memenuhi persyaratan teknis ketimbang hanya sebagai pemenuhan syarat kepatuhan. Sistem pemulihan bencana downtime operasional IT dapat mencegah dan mengatasi downtime lebih cepat. Baik karena kesalahan konfigurasi, kegagalan perangkat, atau karena serangan cyber, perusahaan yang memiliki sarana pemulihan bencana pada data center pihak ketiga dapat lebih memperkecil waktu downtime.

Pertimbangkan Potensi Downtime Terhadap Biaya dan Penurunan Nilai Bisnis

Dalam dunia perbankan, akan terdapat banyak transaksi yang dilakukan melalui internet banking. Era transformasi digital juga mendorong orang-orang untuk bertransaksi secara digital. Persaingan di era transformasi digital ini lebih berfokus pada inovasi yang dapat memberikan kelancaran serta kemudahan bagi para pengguna dan pelanggan.

Anda dapat menghitung biaya downtime dan potensi kerugian lainnya terhadap apa yang terkena dampak di perusahaan anda. Pada praktiknya, downtime per jam dapat membebani perusahaan dengan biaya milyaran hingga puluhan milyar. Downtime bukanlah suatu hal yang dapat di negosiasikan atau di tebak kapan akan terjadinya. Downtime selalu terjadi secara mendadak, dan terutama untuk perusahaan yang sebelumnya beranggapan “kebal downtime”.

Sekuat apapun infrastruktur teknologi informasi anda, tetap saja downtime dapat terjadi. Biaya colocation DR per tahun akan jauh lebih murah ketimbang biaya downtime 1 jam sekalipun. Oleh karena itu, sudah bukan saatnya lagi “berjudi” dengan downtime, percayalah bahwa tidak ada yang kebal terhadap downtime.

Dengan menggunakan layanan disaster recovery center dari penyedia data center pihak ke-tiga, perusahaan dapat lebih menjaga kelancaran internet banking dari waktu-ke-waktu. Serangan DDoS sedang meningkat di seluruh dunia, perusahaan anda harus bersiap menghadapi hal tersebut. Jangan tunggu downtime datang terlebih dahulu, segera ambil keputusan sekarang juga untuk menggunakan jasa data center dari pihak ke tiga sebagai situs cadangan anda.

Pada akhirnya, dapat kita pahami bersama bahwa DevOps dapat mendukung kelancaran internet banking, menggunakan orkestrasi untuk infrastruktur Hybrid Data Center. Sedangkan menjaga kelancaran internet banking dapat diperoleh melalui manfaat penggunaan sistem pemulihan bencana sesuai praktik terbaik.