Transformasi digital semakin diperlukan saat ini dimana transaksi keuangan semakin banyak dilakukan secara online dan melalui aplikasi fintech. Transformasi digital memerlukan inovasi dan pengujian sebelum peluncuran. Hal tersebut dapat menyebabkan sistem berhenti bekerja. Dalam hal ini, sebuah server cadangan sangat dibutuhkan.

DevOps Merupakan Metodologi Transformasi Digital

Tidak ada transformasi digital yang datang tanpa metodologi DevOps. DevOps dapat memperkecil kemungkinan downtime akibat pengujian. DevOps dapat memungkinkan para tim developer melakukan pengujian pada lingkungan operasional (live testing). Jika terjadi kesalahan koding, sistem terisolasi pada kontainer devops dapat mencegah terjadinya masalah katastropik pada sistem.

Sayangnya, metodologi DevOps ini belum umum digunakan di Indonesia. Merskipun begitu, perusahaan startup di Indonesia rata-rata telah menggunakan metodologi DevOps. Kita dapat lihat dalam era transformasi digital ini banyak perusahaan startup yang telah sukses bahkan lebih besar dari perusahaan yang sudah lama berdiri.

Pengujian yang sering dilakukan dalam upaya transformasi digital dapat menyebabkan downtime dan mengganggu kelancaran operasional bisnis. Untuk itu, sebah infrastruktur server cadangan dangat diperlukan. Karena, pengujian yang dilakukan tanpa berada pada lingkungan DevOps akan sangat mungkin menyebakan layanan operasional anda terhenti. Apalagi jika anda sudah melepaskan release baru tanpa melakukan pengujian di sistem produksi. Hal tersebut dapat mengakibatkan masalah yang menyebar secara katastropik dan mengakibatkan operasional IT untuk bisnis anda terhenti.

Infrastruktur Server Cadangan Pada Lokasi Yang Terpisah

Infrastruktur server cadangan akan sangat dibutuhkan bagi perusahaan yang belum menerapkan metodologi DevOps. Hal ini disebabkan karena biaya downtime per jam dibanding biaya colocation DRC jauh berbeda. Sebuah downtime per jam dapat mencakup biaya colocation DR selama 5 hingga 10 tahun.

Terutama untuk perusahaan konvensional yang sedang berupaya melakukan transformasi digital. Alih-alih agar tetap dapat menjadi pemimpin pasar, jika downtime terjadi maka hal tersebut akan semakin sulit untuk dicapai kembali. Ada baiknya dalam hal ini perusahaan menggandeng konsultan IT berpengalaman dalam bidang tansformasi digital dan DevOps.

Perusahaan dapat menggunakan jasa Disaster Recovery as a Services (DRaaS) jika tidak ingin mengeluarkan belanja investasi pada perangkat keras. Akan tetapi jasa DRaaS yang dapat anda andalkan sebagai infrastruktur server cadangan perusahaan anda harus memiliki kriteria sebagai berikut :

  • menggunakan infrastruktur data center kelas dunia (sertifikasi TIER III dari Uptime Institute dan ISO 27001 tentang standard manajemen keamanan data center).
  • memiliki teknologi cloud untuk disaster recovery yang memungkinkan kecepatan fail-over dan fail-back, serta dapat dengan mudah di hubungkan degan sistem back-end anda.
  • berada pada lokasi kurang dari radius 50 KM dari kantor anda, untuk mengurangi potensi loss data akibat network latency.

Dengan menggunakan infrastruktur server cadangan, perusahaan dapat terus melanjutkan program transformasi digital tanpa harus terlalu khawatir dengan downtime. Saat pengujian berlangsung dan downtime terjadi, sistem akan mengalihkan operasional sementara pada cloud DRaaS tersebut. Sementara itu, tim pengembang dan admin IT anda dapat memperbaiki penyebab masalah. Ketika masalah sudah terselesaikan, operasional dapat dikembalikan (fail-back) ke sistem utama anda.