DevOps berarti Anda melakukan sesuatu dan Anda meletakkan segala sesuatu dalam produksi, menurut manager transisi di Perusahaan Shell International, Gregory Dubus. Dubus menjelaskan cara mereka menempatkan Edge diantara Agile dan DevOps. Ini karena bervariasi ketika mereka menempatkan segala sesuatu ke dalam produksi.

Implementasi DevOps di Perusahaan Shell

Dia melanjutkan bahwa

“DevOps mengoptimalkan kerjasama antara pembangunan dan operasi, sehingga memungkinkan segala sesuatu lebih cepat, lebih terprediksi, dan lebih sering rilis fitur baru yang berguna”.

Dia mengatakan bahwa tim pengembangan sudah melakukan banyak Agile dalam DevOps dan mengungkapkan kegembiraan karena mereka bekerja menuju mengotomatisasi segala sesuatu, mengintegrasikan secara mandiri dan memperbarui kode sumber.

Untuk Shell, proposisi nilai iterasi yang cepat dari DevOps adalah untuk “menyampaikan dan mengaktifkan kemampuan bisnis yang menghasilkan nilai lebih cepat sementara mempertahankan operasional dan keamanan.”

Manajer Proyek Perusahaan Shell bekerja pada alat untuk memastikan sistem keamanan IT mereka sehingga mereka bisa bekerja cepat. Setelah mengungkap prinsip dan strategi yang jelas tentang apa yang dapat dilakukan oleh DevOps dan apa yang tidak, tahun 2016 kemarin, Shell memberikan pelatihan DevOps 101 bagi seluruh karyawan TI Perusahaan Shell untuk mempelajari lebih lanjut tentang jenis perubahan dan manajemen rilis.

devops

Perusahaan Shell memiliki kerangka konseptual untuk mengarahkan inisiatif di seluruh perusahaan agar dapat saling berkolaborasi satu sama lain lebih cepat dari sebelumnya. Kerangka konseptual itu memilki 6 Pilar, yakni:

  1. Budaya DevOps
  2. Otomatisasi
  3. Pergeseran / Feedback
  4. Metrik Pengukuran
  5. Saling Berbagi

Dubus mengatakan bahwa sebelum memberlakukan inisiatif Edge, perusahaan sangat bergantung pada konsultan outsource TI dari sekitar 50 persen dari staf pada proyek TI – dan sekarang hanya lima persen dari TI adalah konsultan.

Tapi Apakah Perusahaan Shell Dapat Mengukur Perubahan Budaya?

Menjadi perusahaan terkaya kelima di dunia, mengukur keberhasilannya adalah prioritas. Melampaui pengurangan pemakaian tenaga outsource TI dalam pelaksanaannya, proyek ini telah mendapatkan:

  • 100 persen dari pengguna bisnis yang di survei puas dengan nilai, kualitas dan kecepatan solusi.
  • 97 persen pengguna bisnis yang di survei puas dengan biaya solusi yang ada.

Tentu saja, cara lain yang penting untuk mengukur keberhasilan dalam industri minyak dan gas adalah apakah perubahan tersebut memenuhi kepatuhan atau tidak. Untuk Agile dan Scrum pada perusahaan yang memiliki syarat ketat kepatuhan, tentu “compliant” adalah definisi lain dari “selesai.”

Mengukur perubahan budaya selalu menjadi sebuah tantangan. Tetapi ini merupakan rintangan tertentu bagi sebuah perusahaan multinasional raksasa. Pada akhir Oktober, Perusahaan Shell merilis pelajaran berikut dari Tahap Percontohan awal:

  • Sumber daya operasional dan kepastian perlu dimasukkan dalam tim DevOps.
  • Perubahan budaya dan pola pikir tetap menjadi tantangan utama.
  • Meskipun penurunan besar dalam layanan dan kontrak infrastruktur, mengelola sisa kontraktor dan termasuk dalam struktur DevOps baru terus menyajikan tantangan.
  • Anggaran dan biaya pelaksanaan masih belum jelas, yang tentu saja akan berpengaruh menentukan nilai bisnis proyek.
  • Otomatisasi masih terlalu lambat berkembang.
  • Bahkan dalam tahap awal terpanjang, pengiriman terus menerus dan penyebaran DevOps masih belum sepenuhnya tercapai.

Kenyataan tersebut menghasilkan rekomendasi berikut:

  • DevOps adalah pendekatan baru bagi banyak anggota operasional dan staf pengembangan, yang berarti pelatihan ulang harus terjadi.
  • Mereka masih perlu memperjelas mana yang harus dan tidak harus diterapkan dengan konsep DevOps.
  • Ada kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan strategis, menjelaskan nilai DevOps lebih baik sebelum melanjutkan untuk menerapkannya.
  • Pembinaan harus disediakan untuk tim baru DevOps.
  • Anggaran DevOps dan dukungan diperlukan di semua tingkat bisnis dan TI.
  • Selama perencanaan berjalan dnegan cepat, semua persyaratan fungsional dan nonfungsional harus menjadi bagian dari backlog produk tunggal.
  • Peralatan otomatisasi harus dilanjutkan, termasuk penekanan pada integrasi berkesinambungan, pengujian otomatis dan penyebaran berkelanjutan.
  • Mereka perlu membawa contoh eksternal dan pelajaran di perusahaan lain untuk menemukan lebih banyak praktik terbaik DevOps untuk dapat di ikuti.

Seperti yang Anda lihat, Perusahaan Oil and Gas Shell memiliki jalan panjang dan beberapa tahun dalam menerapkan perubahan ke DevOps. Tapi ini adalah salah satu skala DevOps terbesar dan inisiatif Agile yang pernah diambil oleh sebuah perusahaan multinasional besar. Bahkan masih banyak perusahaan yang jauh lebih besar tetap bergelut pada tantangan yang sama seperti yang di hadapi oleh para perusahaan startups.  Ketahanan terhadap perubahan budaya dan mengukur keberhasilan mau tidak mau harus di respon juga. Hanya ketika rintangan ini diatasi kemudian dapat ditentukan jika DevOps akan sukses.