Masalah IT dapat mempengaruhi lebih dari 1.000 penerbangan di akhir pekan yang berarti orang melewatkan liburan, kehilangan barang bawaan atau terdampar di ruang tunggu penerbangan. Penyebab kelumpuhan IT pada kasus British Airways dapat menjadi pelajaran berharga. Maskapai penerbangan di Indonesia dapat mempelajari penyebab kelumpuhan IT tersebut.

British Airways bisa menghadapi tagihan kompensasi minimal Rp. 1,7 Triliun untuk layanan pelanggan tambahan dan kehilangan bisnis sebagai akibat kerusakan IT yang mempengaruhi lebih dari 1.000 penerbangan pada akhir pekan.

Semua penerbangan maskapai penerbangan dari Heathrow dan Gatwick dimulai pada hari Sabtu. Layanan dilanjutkan pada hari Minggu namun pembatalan dan penundaan berlanjut untuk sekitar 200 penerbangan BA yang masuk dan keluar dari Heathrow pada hari Minggu. Tidak ada pembatalan di Gatwick tapi beberapa penumpang mengalami penundaan.

Penyebab Kelumpuhan IT di British Airways

Kesalahan tersebut diyakini disebabkan oleh masalah pasokan listrik dan tidak ada bukti adanya serangan cyber, kata maskapai tersebut. Kegagalan pasokan listrik di data center biasanya di sebabkan oleh penggunaan UPS Flywheel. Hal ini sering terjadi.

Dalam sebuah video yang diposkan di YouTube, Alex Cruz, chief executive BA, mengatakan bahwa semua sistem IT belum dipulihkan. “Banyak sistem IT kita telah kembali hari ini. Semua rekan kerja Inggris yang berada di lapangan dan di udara menarik semua pemberhentian agar operasi kami kembali normal secepat mungkin. ”

“Saya tahu ini adalah saat yang mengerikan bagi pelanggan. Beberapa telah melewatkan liburan, beberapa telah terdampar di pesawat terbang, beberapa terpisah dari tas dan beberapa terjebak dalam antrian panjang sementara mereka telah menunggu informasi. Atas nama semua orang di BA saya ingin meminta maaf karena Anda harus melalui pengalaman ini, “kata Cruz.

Gatwick dan Heathrow menyarankan penumpang untuk memeriksa status penerbangan mereka setelah terminal menjadi padat dengan para pelancong yang berharap bisa pergi selama liburan akhir pekan dan liburan sekolah setengah sekolah. BA meminta penumpang untuk tidak muncul sampai 90 menit sebelum penerbangan mereka karena tingkat kemacetan di Heathrow.

Pada hari Minggu pagi, petenis tenis internasional Welsh Chloe Thomas, yang terbang pukul 7.30 dari Heathrow ke Jerman untuk Kejuaraan Tenis Meja Dunia di Düsseldorf dibatalkan pada menit terakhir, menggambarkan adegan-adegan yang kacau.

Keengganan BA Dalam Investasi IT Dituding Pro Sebagai Sebab Utama

Beberapa professional data center menuding kesalahan utama BA adalah karena enggan ber-investasi dalam IT. Berdasar pengamatan kami, ini memang banyak terjadi di perusahaan di manapun, termasuk pada perusahaan penerbangan di Indonesia. Salah satu penyebab kelumpuhan IT dapat di dorong oleh pemahaman sesat para pimpinan IT. Dengan menganggap bahwa cukup dengan infrastruktur cloud untuk operasional maka perusahaan bebas dari downtime adalah pemahaman sesat yang banyak di temui di kalangan perusahaan di dunia.

Tidak ada satu pihak pun yang kebal terhadap downtime.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan penerbangan dapat saja menganggap bahwa dengan menggunakan cloud sepenuhnya dapat memperingkas urusan mereka. Pada kenyataanya, penyedia cloud seperti AWS juga beberapa kali mengalami downtime. Tentu hal tersebut akan berpengaruh pada operasional perusahaan penerbangan tersebut.

Para ahli menyarankan untuk tidak 100% bergantung pada satu infrastruktur. Dalam hal ini, jika perusahaan penerbangan hanya mengandalkan cloud untuk infrastruktur IT, maka ini sama saja menempatkan bisnis pada pertaruhan yang buruk di masa depan. Downtime tidak dapat di perkirakan, hanya saja jika terjadi dapat di kelola sebaik mungkin sehingga tidak terlalu mengganggu operasional.

Apapun penyebab kelumpuhan IT di British Airways, ini dapat terjadi pada siapa saja. Selama perusahaan menempatkan strategi pemulihan bencana downtime, hal semacam ini dapat diatasi.

Solusi IT Paling Handal untuk Perusahaan Penerbangan

Kembali lagi, ini terdengar klasik, yakni dengan memiliki infrastruktur cadangan. Hybrid data center merupakan strategi IT terbaik saat ini. Dengan mengkombinasikan cloud dan on-premise data center, para pimpinan perusahaan dapat lebih terbebas dari bayangan buruk yang terus menghantui selama ini terhadap downtime.

Baca juga : Orkestrasi data center dapat menurunkan tingkat downtime.

Belajar dari kasus British Airways, dan juga maskapai penerbangan lain seperti Delta, bahwa downtime benar-benar tidak dapat di terima, baik oleh perusahaan, investor, maupun pelanggan. Sehari downtime akan menyebabkan pembatalan penerbangan yang dapat menurunkan kepuasan pelanggan, disamping hilangnya pendapatan, dan biaya tetap berjalan serta bertambah pada biaya lainnya seperti kompensasi bagi para penumpang.

Keengganan investasi IT dapat menyebabkan perusahaan berada pada posisi yang di alami oleh British Airways. Dengan membayar kompensasi sebesar Rp. 1.7 triliun untuk 1 hari downtime, ini merupakan preseden buruk bagi keuangan perusahaan dan bisnis di masa depan. Tentunya, penyebab kelumpuhan IT karena enggan berinvestasi pada infrastruktur cadangan bukanlah hal yang menguntungkan. Jika dibandingkan dengan investasi perangkat cadangan dan mengeluarkan biaya DR tentu hal ini lebih masuk akal untuk dipilih.

Oleh karena itu, sudah saatnya sekarang para maskapai penerbangan tidak hanya mengandalakan cloud. Perusahaan penerbangan dapat menempatkan cadangan infrastruktur pada data center TIER III. Data center dengan sertifikasi TIER III memiliki SLA 99.9% dengan kemungkinan downtime hanya 1.5 jam dalam 1 tahun. Begitu terjadi downtime pada infrastruktur cloud yang anda gunakan sekarang ini, maka sistem dapat mengalihkan seluruh kebutuhan operasional ke infrastruktur sekunder.

Biaya colocation DR tidak dapat dianggap sebagai pengeluaran sia-sia. Hingga saat ini, tidak ada satu perusahaan pun yang kebal terhadap downtime. Dengan menganggap kebutuhan DRC sebagai hal yang tidak berguna, maka sama saja anda menempatkan bisnis perusahaan anda pada perjudian yang akan membawa kerugian besar di suatu hari.